Skip to main content

Posts

Featured

Ada Titik-Titik di Ujung Doa

Mitchy membiarkan kaca mobilnya terbuka tiga jari, membiarkan aroma aspal basah dan sisa embun pagi Bandung menyusup masuk. Dulu, ia selalu merasa Bandung adalah labirin yang sengaja diciptakan Tuhan agar ia terus tersesat dalam bayang-bayang Mahendra. Namun hari ini, kota ini terasa berbeda. Bandung tidak lagi terasa seperti museum luka, ia terasa seperti rumah yang baru saja dicat ulang. Bersih, tenang, dan lapang.  Ia baru saja menyelesaikan sesi  wall climbing  siang tadi. Otot-otot lengannya sedikit berdenyut, namun denyut itu terasa jauh lebih jujur daripada rasa sakit di hatinya yang dulu sempat menetap secara permanen. Ia sudah tidak lagi mencari alasan untuk marah. Kemarahan yang biasanya meledak-ledak seperti api unggun yang disiram bensin, kini hanya tersisa abu dingin yang tertiup angin. Mitchy menyetir dengan santai menuju Seroja Bake. Meskipun sempat ada drama menyenggol bumper mobil orang lain di persimpangan tadi, Mitchy tidak lagi menangis sesengguka...

Latest Posts

Satu Musim

Kita Adalah Sisa - Sisa Keikhlasan Yang Tak Dapat di Ikhlaskan

And Suddenly, All The Seas Feel Smaller Now

Kamu penggila John Mayer, tapi aku lebih menggilaimu

Tanpa Garis

Seperti kata Sapardi, "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana"

Something lost & Something gained

Chapter 6.5 : A Garden of Misplaced Hearts

Chapter 6 : Ringgo's version

A Lot of Things I Would Never Understand