Ada Titik-Titik di Ujung Doa
Mitchy membiarkan kaca mobilnya terbuka tiga jari, membiarkan aroma aspal basah dan sisa embun pagi Bandung menyusup masuk. Dulu, ia selalu merasa Bandung adalah labirin yang sengaja diciptakan Tuhan agar ia terus tersesat dalam bayang-bayang Mahendra. Namun hari ini, kota ini terasa berbeda. Bandung tidak lagi terasa seperti museum luka, ia terasa seperti rumah yang baru saja dicat ulang. Bersih, tenang, dan lapang. Ia baru saja menyelesaikan sesi wall climbing siang tadi. Otot-otot lengannya sedikit berdenyut, namun denyut itu terasa jauh lebih jujur daripada rasa sakit di hatinya yang dulu sempat menetap secara permanen. Ia sudah tidak lagi mencari alasan untuk marah. Kemarahan yang biasanya meledak-ledak seperti api unggun yang disiram bensin, kini hanya tersisa abu dingin yang tertiup angin. Mitchy menyetir dengan santai menuju Seroja Bake. Meskipun sempat ada drama menyenggol bumper mobil orang lain di persimpangan tadi, Mitchy tidak lagi menangis sesengguka...
