Tenggorokannya Tercekat pada Sesuatu yang Tidak Bisa Ia Utarakan
Tubuh wanita itu panas sekali malam ini. Keringat jatuh perlahan dari pelipisnya, membasahi leher dan punggungnya yang gemetar halus. Ia berdiri terlalu lama di depan sebuah lukisan, seolah kedua kakinya kehilangan kemampuan untuk pergi. Matanya terpaku pada sosok pria di dalam kanvas itu, pada cahaya lampu malam yang jatuh samar di wajahnya, pada tangan panjang yang sibuk menelusuri layar ponsel, pada segelas americano yang tinggal separuh, dan pada sebatang rokok yang nyalanya hampir habis. Tenggorokannya tercekat oleh sesuatu yang tidak bisa ia utarakan. Pria itu terlalu sama. Terlalu hidup. Terlalu utuh untuk disebut kebetulan. Ia mengenali semuanya dengan cara yang menyakitkan. Postur tubuh tinggi semampai itu. Jam olahraga canggih yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Cara bahunya sedikit turun ketika lelah. Cara jemarinya bergerak cepat membelah belasan pesan masuk seolah dunia tidak pernah memberinya waktu untuk benar-benar diam. Dan wanita itu membencinya karena ia mas...
