Tenggorokannya Tercekat pada Sesuatu yang Tidak Bisa Ia Utarakan


Tubuh wanita itu panas sekali malam ini.

Keringat jatuh perlahan dari pelipisnya, membasahi leher dan punggungnya yang gemetar halus. Ia berdiri terlalu lama di depan sebuah lukisan, seolah kedua kakinya kehilangan kemampuan untuk pergi. Matanya terpaku pada sosok pria di dalam kanvas itu, pada cahaya lampu malam yang jatuh samar di wajahnya, pada tangan panjang yang sibuk menelusuri layar ponsel, pada segelas americano yang tinggal separuh, dan pada sebatang rokok yang nyalanya hampir habis.

Tenggorokannya tercekat oleh sesuatu yang tidak bisa ia utarakan.

Pria itu terlalu sama.

Terlalu hidup.

Terlalu utuh untuk disebut kebetulan.

Ia mengenali semuanya dengan cara yang menyakitkan. Postur tubuh tinggi semampai itu. Jam olahraga canggih yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Cara bahunya sedikit turun ketika lelah. Cara jemarinya bergerak cepat membelah belasan pesan masuk seolah dunia tidak pernah memberinya waktu untuk benar-benar diam.

Dan wanita itu membencinya karena ia masih mengingat detail-detail kecil semacam itu.

Ingatan tentang pria itu rupanya tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya diam, menetap seperti udara dingin di dalam ruangan kosong. Tidak bersuara, tetapi selalu ada.

Matanya mulai basah.

Ia mencoba menahan tangisnya, tetapi rindu memang memiliki caranya sendiri untuk menghancurkan seseorang. Perlahan napasnya berubah berat. Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang lama sekali ia kubur hidup-hidup.

Lukisan itu mengembalikan semuanya.

Malam-malam panjang yang dipenuhi suara notifikasi ponsel milik pria itu. Aroma americano yang pahit. Asap rokok rendah nikotin yang selalu membuatnya kesal. Dan tatapan mata lelaki itu yang dingin namun entah bagaimana selalu berhasil membuatnya tinggal lebih lama.

Ia masih ingat kalimat itu.

“Tenang aja. Ini rendah nikotin.”

Kalimat sederhana yang kini terasa lebih tajam daripada perpisahan itu sendiri.

Wanita itu menunduk pelan. Bahunya bergetar kecil. Tangisnya jatuh tanpa suara. Barangkali yang paling menyakitkan dari kehilangan bukanlah perginya seseorang. Melainkan ketika waktu gagal menghapus wajahnya.

Dan malam itu, di depan lukisan yang diam dan bisu, wanita itu sadar bahwa dirinya masih tinggal di tempat yang sama.

Di dalam kenangan tentang seorang pria yang bahkan mungkin sudah tidak lagi menoleh ke arahnya.

Comments