Aku, Jatuh Padamu Dalam Segala Kurang Penuhmu
Aku tidak datang kepadamu dengan ukuran tentang sempurna, tidak pula dengan keinginan menimbang mana yang layak dan mana yang kurang. Sejak awal aku mengerti, manusia bukanlah kisah yang selesai dalam satu waktu. Kita adalah kumpulan jeda, retak yang perlahan dirapikan, dan bagian bagian yang tak selalu bisa dijelaskan dengan kata. Maka ketika aku memilih mendekat, itu bukan karena kau utuh, melainkan karena segala yang belum selesai dalam dirimu terasa begitu nyata.
Aku jatuh padamu dalam segala kurang penuhmu.
Pada caramu diam yang sering kali lebih jujur daripada kata-kata. Pada sikapmu yang kadang menjauh seolah sedang berdamai dengan sesuatu yang tidak pernah kau ceritakan. Aku tidak menganggapnya sebagai penolakan. Barangkali itu hanya caramu bertahan, cara yang dunia ajarkan tanpa sempat memberimu pilihan lain. Dan dalam setiap jarak yang kau ciptakan, aku tetap memilih tinggal, bukan karena aku tak mampu pergi, tetapi karena aku ingin memahami.
Ada saat-saat di mana hatimu terasa seperti ruang yang tertutup rapat, dan aku berdiri di depannya tanpa tahu harus mengetuk atau menunggu. Namun aku tidak pernah benar benar ingin memaksakan diri masuk. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa ada seseorang yang bersedia duduk di depan pintu itu, tanpa tergesa, tanpa menuntut.
Perasaanku kepadamu bukanlah keinginan untuk melihat yang indah saja. Aku tidak ingin sekadar mengenal tawamu yang ringan, tetapi juga lelahmu yang sering kau sembunyikan. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi kamu, walau hanya sedikit. Sebab bagiku, menyukai bukan tentang memilih bagian terbaik, melainkan menerima keseluruhan yang datang bersamanya.
Dan ketika akhirnya aku merasakan luka itu, lagi, rasanya tidak asing. Seperti hujan yang sudah lama diperkirakan akan turun. Ia tetap basah, tetap dingin, tetapi tidak lagi mengejutkan. Aku pernah bertanya dalam diam, apakah aku yang kurang mampu menjaga, atau memang sejak awal kita berjalan di arah yang berbeda.
Namun kali ini, kau tidak pergi dengan diam yang sama.
Kau memilih untuk menjelaskan. Kau mengurai alasan dengan caramu sendiri, tanpa hiasan, tanpa menutupi yang sebenarnya. Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi terjebak dalam pertanyaan yang tak memiliki jawaban. Aku tidak perlu lagi menyusun kemungkinan di kepalaku sendiri. Aku hanya mendengar, dan memahami, perlahan.
Dan di situlah sesuatu berubah.
Kesedihan ini masih ada, tetapi ia tidak lagi terasa kosong. Ia memiliki bentuk, memiliki alasan untuk dimengerti. Langit yang sebelumnya terasa redup perlahan membuka dirinya, seolah memberi ruang bagi cahaya yang sempat tertahan. Aku mulai menerima bahwa tidak semua yang kita jaga akan tetap tinggal, dan tidak semua yang pergi adalah kehilangan yang sia-sia.
Aku jatuh padamu, dan dari sana aku belajar untuk melepaskan.
Kini aku tidak lagi berdiri dengan harapan yang sama. Tidak juga dengan penyesalan yang berat. Aku hanya menyimpan apa yang pernah ada sebagai sesuatu yang pernah hidup, walau tidak menetap.
Aku berharap engkau menemukan damai yang selama ini kau cari. Aku berharap, pada waktunya nanti, kita masing-masing mampu menemukan diri kita kembali, tanpa harus saling mencari di tempat yang sama.
Dan dalam keheningan yang tersisa, aku menyadari sesuatu yang sederhana namun cukup menenangkan.
Matahari perlahan mulai muncul.

Comments
Post a Comment