Hujan dan Kematian

Sampai kursi yang biasa ia duduki tinggal diam,
Sampai tubuh tak lagi menghangatkannya.
Hari berjalan seperti biasa,
Matahari tetap naik,
Disela rintik hujan,
burung-burung tetap menyusun pagi.
Tetapi ada yang hilang,
yang tak bisa disebutkan oleh kalender,
yang tak bisa terucap oleh kenangan yang berdenyut getir.
Di antara percakapan yang tiba-tiba berhenti,
di sela sendok yang tak lagi berdenting,
di meja yang dulu kau isi dengan tawa manis.
Namamu kini tersimpan dalam gema hening.
Kau mungkin tak pernah tahu,
betapa banyak hati diam-diam menaruhmu,
seperti cahaya kecil di ruang yang gelap.
Kau mungkin tak pernah menghitung,
berapa kali kehadiranmu menyelamatkan seseorang,
dari hari yang hampir runtuh.
Kini, ketika bumi menutup pintunya dengan tanah yang sunyi,
kami baru belajar membaca,
nilai yang tak pernah kau sebutkan.
Bahwa seseorang bisa begitu berharga,
bukan karena ia meminta untuk diingat,
melainkan karena ia telah menjadi alasan banyak orang tetap bertahan hidup.
Dan kematian,
seolah membuka halaman yang selama ini terlipat :
Tentang betapa besar arti seseorang,
yang dulu hadir dengan sederhana,
tanpa meminta tempat,
tanpa meminta dikenang.
Comments
Post a Comment