Akhir Pekan Yang Hilang

Gambar Story PIN


Di kota yang selalu basah oleh hujan seperti Bandung, pertemuan sering kali terasa seperti kebetulan yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Mitchy pertama kali bertemu Andra pada sebuah Sabtu sore yang seharusnya biasa saja.

Hari itu Mitchy baru saja keluar dari rumah sakit setelah shift yang panjang. Rambutnya masih terikat seadanya, jas dokternya dilipat di dalam tas. Ia berhenti di sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan yang sering ia lewati tapi jarang ia masuki. Hanya ingin duduk sebentar sebelum pulang.

Di meja dekat jendela, seorang laki-laki sedang membentangkan beberapa kertas gambar arsitektur. Garis-garis pensilnya rapi, seperti orang yang sudah sangat terbiasa membangun sesuatu dari nol.

“Maaf, boleh numpang colokan?” Mitchy bertanya.

Laki-laki itu mengangkat wajahnya.
“Boleh. Tapi nanti kalau laptop kamu mati, berarti saya yang terlalu lama pakai.”

Itu kalimat pertama Andra.

Entah bagaimana, percakapan setelah itu mengalir begitu saja. Tentang pekerjaan Mitchy sebagai dokter yang sering lupa waktu, tentang Andra yang bekerja sebagai arsitek di sebuah perusahaan dan lebih sering memikirkan bangunan daripada dirinya sendiri.

Aneh rasanya.
Baru beberapa menit, tapi seperti mereka sedang melanjutkan obrolan yang pernah dimulai lama sekali.


***


Mereka bertemu lagi keesokan harinya.

Kali ini berjalan tanpa tujuan di jalanan Bandung yang dingin setelah hujan. Andra menunjuk beberapa bangunan tua dan bercerita bagaimana kota ini berubah pelan-pelan. Mitchy mendengarkan, sesekali tertawa, sesekali diam.

“Lucu ya,” kata Mitchy.
“Apa?”

“Kita baru kenal dua hari, tapi rasanya seperti kenal lama.”

Andra tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat lampu jalan yang memantul di genangan air.

“Mungkin karena kita bertemu di waktu yang tepat,” katanya pelan.

Akhir pekan itu berlalu terlalu cepat.

Senin datang seperti biasa. Dengan pekerjaan, tanggung jawab, dan hal-hal yang tidak bisa ditunda. Mitchy kembali ke rumah sakit. Andra kembali ke meja gambarnya.

Mereka masih saling mengirim pesan sesekali.

Tapi anehnya, yang paling terasa bukan hari-hari setelahnya.

Yang paling terasa justru akhir pekan itu sendiri.

Seolah dua hari itu berdiri terpisah dari waktu yang lain, sebuah ruang kecil dalam hidup mereka, tempat percakapan mengalir mudah, tawa datang tanpa alasan, dan dunia terasa sedikit lebih ringan.

Kadang Mitchy berpikir, mungkin ada pertemuan yang memang tidak dimaksudkan untuk menjadi panjang.

Hanya cukup untuk menjadi kenangan.

Seperti sebuah akhir pekan di Bandung yang datang diam-diam, lalu hilang sebelum sempat benar-benar dimiliki.

Dan mungkin itu sebabnya, sampai sekarang, Mitchy masih merasa sebagian kecil dari dirinya tertinggal di akhir pekan yang hilang itu.

Comments

Popular Posts